SEKAA GONG MURDANING KATON JAYA KELURAHAN TONJA DENPASAR UTARA PADA PKB XXXII 2010
Tabuh Telu Lelambatan Kreasi Lempung Gunung
Lempung artinya Lemuh, Lembut atau Indah Gunung pada dasarnya kalau kita pandang dari kejauhan merupakan suatu pemandangan yang sangat indah dan menarik. Memaknai kata diatas, terciptalah sebuah komposisi tabuh telu lelambatan kreasi yang dalam perjalanannya terdapat kalimat-kalimat lagu atau jalinan melodinya sangat indah, dan uger-uger yang ada dalam komposisinya tetap mempertahankan tradisi yang ada. Melihat dari jalinan melodi yang sangat indah tadi penggarap mencoba mengkreasikannya beberapa kalimat lagu yang ada, dengan mengkombinasikan unsur-unsur musik, hingga menjadi sebuah komposisi yang kreatif, dinamik dan inovatif yang bernuansa kekinian.
Penata kerawitan : I Ketut Suandita .Ssn
Pembina : A.A.Putra
I Ketut Sudiana
I Ketut Sukerata
Tari Wiranata
Maha karya maestro almarhum I Nyoman Kaler, berkisar tahun enam puluh. Tari ini menggambarkan kisah kepahlawanan seorang Raja yang menjadi panutan sebagai pemimpin kepada rakyatnya. Karakter ini tertuang dalam berbagai ekspresi dan gerak yang mengikuti alur irama gambelan dengan dinamika yangdinamis dan terkesan keras dan tegas sebagai gambaran sikap sang kesatria.
Karya : Almarhum I Nyoman Kaler
Pembina Tabuh : Drs I Ketut Wijana
I Wayan Narka
Pembina Tari : I.G.A Mas Susilawat
Made Dwi Puspayani
Tabuh Kreasi Murdhaning Sekati
Murdhaning Sekati adalah karya musical yang tercipta sebagai materi gong kebyar pada festival gong kebyar tahun 1992. tabuh ini mengikuti Uger-uger tetabuhan gong dengan mengolah motif-motif gending kekebyaran. Struktur komposisinya terdiri dari kawitan (intro), pengawak (Pokok), dan pengecet atau pekaad (penutup). Bagian intro mengolah gineman gangsa dengan motif nelutur yang dipadukan dengan acak-acakan ring pengucek kekebyaran. Bagian pengawak menampilkan permainan jejaton berupa penonjolan instrument mulai dari permainan suling dan gegenderan gangsa yang dipandu oleh permainan periring pada penyacah, jublag, jegogan dan dilanjutkan dengan menampilkan reruketan kendang acak-acakan riong. Lalu pada bagian pengecet dan pekaad menggambarkan keharmonisan irama, dinamika dan melodi yang dimainkan oleh seluruh instrument secara bersama-sama dan bersahutan.
Penata Kerawitan : I Nyoman Astita,MA
I Wayan Gede Yudane.SSKar
Pembina : I Ketut Suandita .Ssn
A.A.Putra
I Ketut Sukerata
Fragment Tari Niryamada
Turunan empu Sidhi Mantra yang bernama Bagus Bang Manik Angkeran yang mengabdi di Besakih menjadi abdi Ida Betara Naga Basuki bermaksud untuk memperbaiki prilaku buruk yang menjadi kebiasaannya. Suatu hari Manik Angkeran anjang sana, bertemu dengan seorang di padukuhan Bokcabe. Ki Dukuh Blatung dengan anak seorang anak wanita yang cantik yang bernama Ni Luh Warsiki dimana kesehariannya berkebun dengan teman-temannya.
Ketika bertemu dengan Ki Dukuh Blatung, terjadilah perselisihan dengan Manik Angkeran melihat karakter kedua orang ini sama-sama angkuh. Terjadilah perdebatan dan anjuk kesaktian memperlihatkan akan kesombongan masing-masing. Menganggap diri paling sakti Ki Dukuh Blatung berjanji bila dia kalah dia akan menyerahkan seluruh pengikutnya yang berjumlah 18 orang berikut putri satu-satunya kepada Manik Angkeran.
Penata Kerawitan : Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya.S.Sn
Pembina : A.A.Putra
I Made Sukarda.S.Sn
Penata Vokal : Nik Suwasti.S.Sn
Team Gong kebyar Duta Kota Denpasar
Koordinator : Ir. A.A.Putra