Menu

Kecamatan DENTIM

Pura Agung Petilan Kesiman

Deskripsi:

Pura Agung Petilan Kesiman Memiliki Struktur tri mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) berada di sisi selatan dan barat, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala) berada di sisi timur. Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta (bhuana Agung) atau nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, madya mandala melambangkan bwahloka yaitu alam pitra/roh atau alam peralihan, dan utama mandala melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Jaba sisi (nista mandala) merupakan Jl. WR. Supratman di sebelah selatan dan Jl. Noja di sebelah barat.

Gapura/Paduraksa (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Gapura/paduraksa atau disebut juga Kori Agung dapat dikategorikan sebagai struktur obyek diduga cagar budaya, merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba tengah (madya mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Struktur gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbuat dari susunan batu bata, tetapi bagian tangga permukaan atasnya telah dilapisi dengan beton di depan dilengkapi sembilan anak tangga, sedangkan pada bagian kaki sisi dalam memiliki 11 anak tangga. Bagian badan gapura/paduraksa terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan berukuran panjang 1.623 cm terdiri dari badan pengawak gede, badan caping, dan badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata berukuran tinggi 344 cm, lebar 110 cm, ditengah tengahnya tedapat daun pintu berukir dicat berwarna emas berukuran tinggi 245 cm, lebar 95 cm, daun pintu dan kusen terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap ulap) bersusun enam, pada atas ambang pintu dipahatkan ukiran dasar kepala kala bersayap dengan susunan batu bata menjorok keluar, tetapi belum selesai diukir, setiap sudut badan masing masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya.

Tembok (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Tembok di Pura Agung Petilan Kesiman dapat dikategorikan sebagai struktur obyek diduga cagar budaya adalah yang mengelilingi halaman jeroan (utama mandala). Struktur tembok secara keseluruhan terbuat dari susunan batu bata, dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbuat dari susunan batu bata, tetapi ada beberapa sudah dilapisi semen, bagian badan juga terbuat dari susunan batu bata berbentuk polos tanpa hiasan, beberapa bagiannya sudah dilapisi semen perekat. Sedangkan bagian atap tembok terbuat dari susunan batu bata semakin ke atas semakin kecil berbentuk limasan. Setiap sudut dan tengah tembok dilengkapi dengan pilar untuk menjaga kekuatan tembok, pilar ini disebut dengan paduraksa lengkap dengan kaki, badan dan atap, bagian atap memiliki hiasan kemuncak murdha serta setiap sudutnya dihiasi dengan antefik maupun ikut celedu.

Tugu Pangrebongan (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Tugu Pangrebongan terletak di depan Gapura/paduraksa Kori Agung Pura Agung Petilan, terbuat dari susunan batu bata, tidak menggunakan atap, terdiri dari bagian kaki dan badan lengkap dengan hiasan simbar gantung dan duduk. Bagian puncak bentuknya menyerupai singgasana terbuat dari batu padas lengkap dengan alas dan sandaran, di Bali disebut dengan ulon. Alas puncak pada sisi depannya dipahat tanggal pendiriannya yaitu 5 – 9 – 1966.

 

Gedong Manca Desa (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Gedong Manca Desa terletak di sisi timur paling selatan halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke barat, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki berhiaskan pepalihan berupa pelipit khas bebadungan pada sisi utara maupun selatan, dan terdapat sembilan anak tangga di bagian tengahnya. Reling tangga disusun dengan batu bata, setiap ujungnya terdapat tempat arca berbentuk bebaturan, ujung reling depan diletakkan sepasang arca Balagana, sedangkan ujung reling belakang diletakkan sepasang arca dwarapala Nawasari, kemudian di tengah tengah tangga terdapat altar dan aling-aling dari susunan batu bata lengkap dengan hiasan simbar duduk maupun simbar gantung. Badan bangunan terbuat dari susunan batu bata dengan hiasan tonjolan pelipit membentuk pepalihan khas bebadungan, ditengahnya terdapat pintu menuju garbha graha, pada selasar depan terdapat empat buah umpak menopang tiang kayu penyangga atap bangunan, selasar depan pintu garbha graha juga terdapat selasar berbentuk U difungsikan untuk meletakkan arca pratima dan pecanangan ketika upacara berlangsung. Atap bangunan terbuat dari konstruksi kayu dan ijuk. Bagian atap bangunan Gedong Manca Desa disusun menggunakan struktur kayu dan ijuk berbentuk limasan.

Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri terletak timur : Abad XVIII – XX masehi : Batu bata, kayu, dan ijuk : Beberapa bagian rusak : Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri pada sisi menjadi bangunan sentral di halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke barat, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki paling dasar berupa badan kura-kura dililit naga, di atasnya berbentuk bujur sangkar terbuat dari susunan batu bata. Badan bangunan memiliki hiasan pepalihan khas bebadungan pada ketiga sisinya, kecuali sisi belakang rata tanpa motif hiasan, memiliki lubang pintu garbha graha pada sisi barat, terdapat sembilan buah umpak menopang tiang kayu penyangga atap bangunan, pada bagian depan bangunan terdapat relung dari susunan batu bata, di atasnya diletakkan arca Siwa Mahadewa, Nandiswara, Mahakala, dan dua arca tokoh, sedangkan di dalam relung terdapat kepala kura kura di lilit naga (bedawangnala). Garbha graha merupakan ruangan suci untuk melatakkan arca pratima seperti Ratu Dalem, Ratu Pura Pauman, Ratu Kahyangan, Ratu Panji, dan Ratu Cakraningrat ketika upacara berlangsung. Tangga untuk menuju garbha graha dibuat pada dua sisi relung, yaitu dari sisi selatan dan utara. Bagian atap bangunan Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri disusun menggunakan struktur kayu dan ijuk berbentuk limasan disangga dengan sembilan tiang berbahan kayu.

Gedong Pangerob (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Gedong Pangerob terletak pada sisi timur tepatnya disebalah utara Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri di halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke barat, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki berhiaskan pepalihan khas bebadungan pada sisi utara dan selatan, beberapa bagiannya sudah rusak, terdapat tujuh anak tangga menuju selasar badan bangunan. Reling tangga disusun dengan batu bata, setiap ujungnya terdapat tempat arca berbentuk bebaturan, ujung reling depan diletakkan sepasang arca tokoh, sedangkan ujung reling belakang juga diletakkan sepasang arca tokoh, kemudian di tengah-tengah tangga terdapat altar dan aling aling dari susunan batu bata lengkap dengan hiasan simbar duduk maupun simbar gantung. Badan bangunan terbuat dari susunan batu bata dengan hiasan tonjolan pelipit membentuk pepalihan khas bebadungan, ditengahnya terdapat altar untuk meletakkan arca pratima ketika upacara berlangsung, seperti pratima Pura Tojan, Pura Siman, Pura Daton, Pura Dalem Wirasana, Pura Sekar Ambara, Pura Kahyangan Bajangan, dan Pura Petapan Dalem Denpasar. Pada selasar depan terdapat dua buah umpak menopang tiang kayu penyangga atap bangunan. Atap bangunan terbuat dari konstruksi kayu dan ijuk berbentuk limasan.

Palinggih Pangenter Pangider Bhuwana (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Pelinggih Pangenter Pangider Bhuwana terletak di halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke timur, tepat berada di sisi timur sebelah selatan gapura/paduraksa Kori Agung, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dan secara struktur dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari susunan batu bata pada sisi depan maupun samping dihiasi dengan tonjolan pelipit-pelipit, pada bagian depan kaki terdapat anak tangga, di setiap sudut-sudut kaki terdapat hiasan simbar duduk dan simbar gantung. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata dengan hiasan tonjolan pelipit, memiliki ruang suci atau garbha graha berukuran tinggi 33 cm dan lebar 22 cm, serta atap bangunan terbuat dari susunan batu bata bersusun lima semakin ke atas semakin mengecil dan puncaknya dilengkapi dengan kemuncak berbentuk murdha.

 

Palinggih Pengrurah Agung (Pura Agung Petilan Kesiman)

Deskripsi:

Pelinggih Pangrurah Agung terletak di halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke timur, tepat berada di sisi timur sebelah utara gapura/paduraksa Kori Agung, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dan secara struktur bentuknya sama dengan Pelinggih Pangenter Pangider Bhuwana, yaitu terdiri bagian kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari susunan batu bata pada sisi depan maupun samping dihiasi dengan tonjolan pelipit-pelipit, pada bagian depan kaki terdapat anak tangga, di setiap sudut-sudut kaki terdapat hiasan simbar duduk dan simbar gantung. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata dengan hiasan tonjolan pelipit, memiliki ruang suci atau garbha graha berukuran tinggi 33 cm dan lebar 22 cm, serta atap bangunan terbuat dari susunan batu bata bersusun lima semakin ke atas semakin mengecil dan puncaknya dilengkapi dengan murdha.

 

Arca Balagana I

Deskripsi:

Pelinggih Pangrurah Agung terletak di halaman jeroan (utama mandala) menghadap ke timur, tepat berada di sisi timur sebelah utara gapura/paduraksa Kori Agung, dapat dikategorikan sebagai bangunan obyek diduga cagar budaya, dan secara struktur bentuknya sama dengan Pelinggih Pangenter Pangider Bhuwana, yaitu terdiri bagian kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari susunan batu bata pada sisi depan maupun samping dihiasi dengan tonjolan pelipit-pelipit, pada bagian depan kaki terdapat anak tangga, di setiap sudut-sudut kaki terdapat hiasan simbar duduk dan simbar gantung. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata dengan hiasan tonjolan pelipit, memiliki ruang suci atau garbha graha berukuran tinggi 33 cm dan lebar 22 cm, serta atap bangunan terbuat dari susunan batu bata bersusun lima semakin ke atas semakin mengecil dan puncaknya dilengkapi dengan murdha.

 

 

 

 

Arca Dwarapala Nawasari II

Deskripsi:

Arca diletakkan di sebelah kanan ujung tangga belakang Gedong Manca Desa, berdiri dengan kaki kanan ditekuk lebih tinggi di atas lapik bermotif karang simbar, tangan kiri ditekuk di sebelah perut dengan posisi menggenggam dimana ibu jari terlipat keluar di antara jari telunjuk dan jari tengah, sedangkan tangan kanan ditekuk di belakang kepala membawa kuncup bunga/sari bunga. Atribut yang dibawa inilah membuat arca dwarapala ini bernama nawasari. Arca dipahatkan berwajah menyeramkan sama dengan arca Dwarapala Nawasari I, kepalanya menggunakan jamang susun tiga dengan motif manik-manik, sulur daun dan karang simbar, menggunakan simping bermotif karang simbar, ikat pinggang dengan gasper bermotif karang bentolu, menggunakan kain di atas lutut dengan pola garis, sampur terjuntai di kiri dan kanan pinggang dengan pola garis dan karang simbar, wiru terjuntai sampai lapik dengan motif garis-garis dan karang simbar, ujung wiru terbagi dua dengan tiga lipatan, dan menggunakan gelang kaki bermotif simbar.

 

 

 

Arca Tokoh I (Dewa Brahma)

Deskripsi:

Arca diletakkan di atas relung depan Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri. Kondisi arca sudah dicat dengan warna merah kombinasi prada mas, dipahatkan dengan sikap berdiri kedua kaki ditekuk di atas lapik bermotif karang batu. Tangan kanan arca dipahat ditekuk ke depan dada memegang sampur, sedangkan tangan kiri ditekuk di sebelah perut memegang ujung kain. Kepala arca menggunakan mahkota cecandian lengkap dengan karang asti di belakangnya, petitis di atas dahi berbentuk polos, jamang bermotif garis-garis vertikal dan karang simbar, simping bermotif ron-ronan, sedangkan kundala, gelang lengan, keyura, kankana, dan hara bermotif karang simbar. Arca menggunakan upawita motif sulur daun dan mas-masan, udarabandha motif garis horizontal, menggunakan kain susun dua dengan motif sulur daun dan mas-masan, sampur susun dua melintang di depan paha dan ujungnya terjuntai di kiri dan kanan dengan motif sulur daun, wiru terjuntai sampai lapik dengan motif garis-garis dan karang simbar, ujung wiru terbagi dua dengan tiga lipatan, dan menggunakan gelang kaki bermotif karang simbar.

 

 

 

Arca Tokoh I (Dewa Brahma)

Deskripsi:

Arca diletakkan di atas relung depan Gedong Agung Petilan/Gedong Dalem/Gedong Mandaragiri. Kondisi arca sudah dicat dengan warna hijau kombinasi prada mas, dipahatkan dengan sikap berdiri kedua kaki ditekuk di atas lapik bermotif karang batu. Tangan kiri arca dipahat ditekuk ke depan dada memegang sampur, sedangkan tangan kanan ditekuk di sebelah perut dengan sikap nyambir. Kepala arca menggunakan mahkota cecandian lengkap dengan karang asti di belakangnya, petitis di atas dahi berbentuk polos, jamang bermotif garis-garis vertikal dan karang simbar, simping bermotif ron-ronan, sedangkan kundala, gelang lengan, keyura, kankana, dan hara bermotif karang simbar. Gaya dan motif hiasan arca tokoh II sama dengan arca tokoh I, yang membedakan hanya ekspresi wajahnya. Ekspresi wajah arca tokoh II tenang, sedangkan arca tokoh I matanya melotot.