Kecamatan DENUT
Kori agung (Pura Desa, Bale Agung dan Pura Puseh Desa Adat Tonja) Deskripsi:
Arsitektur kori agung Pura Desa, Puseh Bale Agung memiliki karakter kuna dan masih bertahan sampai saat ini. Bahan yang digunakan adalah batu padas, terdiri dari kaki, badan, dan kepala susun 5 (lima). Pada bagian kaki terdapat anak tangga berjumlah lima dan pada bagian kanan kiri tangga terdapat baturan dengan ornamen patra kakul, karang manuk, karang simbar, dan pepalihan. Pada bagian badan terdapat pintu masuk berbahan kayu, di samping kanan kiri pintu terdapat sepasang arca dwarapala. Terdapat ornamen karang bentulu, karang manuk, karang tapel, patra cina, subeng, dan kepala kala bersayap. Bagian kepala terdapat ornamen ikut celedu, karang bentulu, bungan tuwung. Pada bagian kekuping terdapat ornamen sulur-suluran dan karang manuk. Kemuncak berbentuk karang bentala.
Padmasana/Palinggih Ulun Danu (Pura Desa, Bale Agung dan Pura Puseh Desa Adat Tonja) Deskripsi:
Padmasana dibagi atas tiga bagian yaitu tepas (dasar), batur (badan), dan sancak (puncak). Tepas merupakan dasar padmasana didukung oleh Bedawang Nala yang dibelit oleh naga, bisa berjumlah satu dengan simbol Hyang Basuki dan dapat pula daun sebagai simbol Hyang Basuki dan Antabhoga. Batur merupakan badan padmasana yang terdapat pepalihan (tingkat). Di atas Benawang Nala terdapat hiasan karang batu. Di samping naga terdapat sepasang arca dewa menunggangi binatang. Pada bagian tepas terdapat ornamen karang manuk, karang simbar, patra mesir, dan masmasan. Kemudian, pada bagian batur terdapat ornamen karang bentulu, karang manuk, patra mesir, pepalihan, dan mas-masan. Pada bagian sancak terdapat ornamen masmasan, sulur-suluran, dan bagian belakang terdapat karang tapel.
Arca Durga (Pura Desa, Bale Agung dan Pura Puseh Desa Adat Tonja)
Deskripsi:
Arca dalam sikap berdiri tribangga di atas lapik segiempat polos dengan sandaran (stela). Pada bagian bawah lapik terpadat purus yang menancap pada lubang batu berbentuk persegi menyerupai yoni dengan ukuran tinggi 40 cm, lebar 64cm, dan tebal 64 cm, batu tersebut saat ini di cat dengan warna abu dan jingga. Arca saat ini diletakkan di sebelah kanan pintu Gedong Ratu Gede Desa. Bertangan delapan masing-masing membawa atribut dewa, dimulai dari tangan kiri depan dengan sikap ditekuk mengarah ke depan perut bagian telapak tangan aus, tangan kedua membawa camara (pengusir lalat), tangan ketiga membawa perisai, tangan keempat membawa busur. Sikap tangan kanan depan lurus ke bawah memegang pedang (kadga), tangan kedua memegang cakra, tangan ketiga memegang trisula, tangan keempat memegang anak panah. bentuk muka persegi, mata tertutup, hidung sedang, bibir tipis tersenyum, memakai mahkota rambut yang dipusung (jatamakuta) dengan hiasan ardhacandra kapala (tengkorak bulan sabit), memakai jamang dengan motif ceplok bunga, terdapat sinar kedewataan (prabha) di belakang kepala. Telinga memakai anting-anting (kundala) panjang menyentuh bahu. Leher sedang terlihat terdapat guratan tersusun tiga, memakai kalung (hara) kondisi aus, memakai tali khasta (upawita) berbentuk ular menyilang dari bahu kiri ke pinggang kanan, memakai ikat perut (udarabandha), memakai ikat pinggang (katibanda) yang tampaknya memiliki motif tetapi karena kondisi aus jadi tidak terlihat. Kedua tangan depan memakai gelang tangan keyura motif ceplok bunga, dan (axandkamala) untaian tali lengan di bawah keyura polos tanpa motif. Keenam tangan lainnya muncul dari bagian siku (seperti tangan bayangan tanpa lengan). Kedelapan tangan memakai gelang tangan (kankana) spiral polos. Memakai kain tipis dari pinggang sampai lapik dengan untaian kain di depan paha (urudama) seperti selendang yang di gantung sisi kanan ke bagian tengah bersama uncal lalu digantung ke sisi kiri. Terdapat selendang (sampur) teruntai dari pinggang sampai ke babagian bawah di sisi kanan kiri arca.
Arca Ganesha (Pura Desa, Bale Agung dan Pura Puseh Desa Adat Tonja)
Deskripsi:
Arca dalam sikap duduk wirasana diatas lapik segi empat polos, dengan sandaran (stela). Pada bagian bawah lapik terpadat purus yang menancap pada lubang batu berbentuk persegi menyerupai yoni dengan ukuran tinggi 49 cm, lebar 61 cm, dan tebal 61 cm, batu tersebut saat ini di cat dengan warna abu dan jingga. Arca saat ini diletakkan di sebelah kiri pintu Gedong Ratu Gede Desa. Memiliki empat tangan, dua tangan belakang muncul dari siku dan masing-masing membawa atribut dewa, tangan kanan membawa kapak (parasu), tangan kiri membawa bunga padma atau lotus kuncup. Dua tangan depan masing-masing membawa atribut, tangan kanan depan membawa padma (teratai/lotus) mekar, tangan kiri depan membawa mangkok (cawan) yang berisikan biji. Memakai mahkota (jatamakuta) rambut yang dipusung menyerupai mahkota dengan ikatan ardhacandrakapala (bulan sabit dan tengkorak) yang merupakan ciri khas dari keluarga Siwa. Dibelakang mahkota terlihat sirascakra (sinar kedewataan) yang polos. Telinga lebar, mata bulat kecil, terdapat dua gading pada mulut, gading sebelah kanan patah dan yang sebelah kiri utuh. Terlihat belalai menjuntai ke arah kiri dengan ujungnya menyentuh mangkok. Kedua tangan depan memakai gelang lengan bermotif ceplok bunga, dan keempat tangan memakai gelang tangan genitri (tasbih). Memakai tali khasta (upawita) yang menjuntai dari bahu kiri ke bawah pinggang kanan berbentuk ular. Perut buncit memakai ikat perut (udharabanda), terlihat selendang (sampur) menjuntai di sebelah kanan dan kiri pinggang arca.