Misi Kesenian Lintas Budaya Tahun 2010 di Surabaya
Tabuh Jaya Semara
Tabuh kreasi ini di ciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an adalah salah satu bentuk tabuh kreasi Gong Kebyar. Tabuh ini merupakan ekspresi kemenangan dan kecintaan “ Jaya Semara “. Komposisinya dimulai dengan permainan bersama yang sangat dinamis diselang selingi dengan permainan konfigurasi reyong, rampak kendang dan diakhiri dengan permainan oncang-oncangan gangsa yang saling bersahutan. Jaya Semara adalah salah satu tabuh internasional ( interlude ) yang sangat populer dalam pertunjukan Legong Kebyar di era tahun 1970-1980an.
Tari Sekar jempiring
Jempiring adalah sebuah tanaman Maskot Kota Denpasar yang memiliki bau khas tersendiri, dan banyak kita jumpai di sudut-sudut kota hingga menghiasi taman Kota Denpasar. Terinspirasi dari tanaman Jempiring seorang Bintang Puspayoga ingin membuat tari penyambutan khas Kota Denpasar, ide ini mendapat sambutan dari seniman Kota Denpasar dengan harapan tarian ini dapat dipergunakan sebagai tari Penyambutan.
Dengan memakai keagungan, keharuman dan kesucian bunga Jempiring. Penggarap menginspirasikan dalam bentuk tari penyambutan yang di kemas dari pola gerak tradisi, dikembangkan menjadi bentuk baru, dikombinasikan dengan music gamelan gong kebyar yang inovasif berbau kekinian, tanpa meninggalkan substansi pokok yang ada, maka lahirlah tarian dengan judul “ Sekar Jempiring “
Penata Tari : Ida Ayu Arya Satyani,Ssn
Penata Tabuh : I Ketut Suandita
Pembina Tari : Dra. I Gst. A. Susilawati
Tari Tedung Sari
“ Tedung†berarti payung. Sari ibaratkan Wanita Bali yang cantik. Atas dasar dua kata tersebut yakni Tedung Sari, maka peñata mencoba menginspirasikan kedalam sebuah garapan tari dengan gerak-gerik yang sangat lincah yang dibawakan oleh wanita-wanita cantik dengan permainan payung yang senantiasa untuk melindungi diri dari hujan dan panas.
Penata Tari : I Nyoman suarsa
Penata Kerawitan : I Nyoman Sudarna, BA
Pembina Tari : I Made Sukarda
Pembina Kerawitan : I Ketut Suandita
Sinopsis Fragmen
Hutan yang Nampak asri menambah keindahan pemandangan di kaki gunung Tohlangkir. Beliau dianugrahkan seorang putra yang bernama Manik Angkeran. Pada masa remaja Bang Manik Angkeran pernah melakukan kesalahan dengan mencuri bungkahan emas yang menghiasi ekor Naga Basuki. Atas kesalahannya tersebut Manik Angkeran di lebur menjadi abu oleh Naga Basuki. Namun atas permohonan Mpu Sidimantra, Bang Manik Angkeran di hidupkan kembali dengan syarat agar kelak ia menjadi kesatriya yang teguh memperjuangkan dharma, serta berprilaku baik, patuh kepada orang tua.
Pembabakan dan Narasi
Gunung Tohlangkir menjulang tinggi mencapai cakrawala diupuk Timur pulau Bali. Sinar matahari menembus celah-celah hutan di kaki gunung menghangatkan suasana pertapaan di kaki gunung. Tersebutlah Mpu Sidimantra memberikan wejangan kepada putranya Bang Manik Angkeran : “Wahai anakku Manik Angkeran, engkau adalah seorang kesatriya, seorang pemimpin yang menjadi panutan masyarakat. Sebagai kesatriya engkau harus jujur, taat dan penuh kasih saying kepada semua ciptaan Tuhan, bekerja keras untuk kesejahteraan umat manusia, mewujudkan keharmonisan dan kedamaian di dunia dengan melaksanakan ajaran dharmaâ€.
Bang Manik Angkeran bersuka cita menikmati keindahan panorama Gunung Tohlangkir dengan suasana hutan dan kehidupan marga satwa lainnya. Di sisi yang lain tersebutlah sebuah masyarakat padukuhan yang hidup dengan tentram dan damai. Padukuhan ini di pimpin oleh Dukuh Belatung yang memiliki seorang putri yang bernama Diah Warsiki dan atas desakan pengikut-pengikutnya mereka kemudian menjalin cinta kasih.
Dukuh Belatung menjalani kehidupan sebagai orang suci yang dihormati oleh masyarakat di sekitar padukuhan. Dukuh Belatung memiliki seorang putri, Diah Warsiki yang sudah menginjak dewasa. Putri-putri di Padukuhan Nampak ceria menemani Diah Warsiki bercengkrama dan bersama-bersama melaksanakan kewajiban kaputren sehari-hari.
Pertemuan Diah Warsiki dengan Manik Angkeran menyulut bara cinta diantara mereka. Ketika hal ini di ketahui oleh Dukuh Belatung, sang dukuh murka karena Manik Angkeran tidak memohon restu kepadanya. Kesalahpahaman ini berlanjut dengan perselisihan antara Dukuh Belatung dengan Manik Angkeran. Masing-masing mempertaruhkan prinsip dan saling mempertunjukkan kesaktiannya.
Uji kesaktian dan pertarungan akhirnya berhenti ketika mereka sadar bahwa sifat-sifat emosional, marah, sombong tidak patut ditonjolkan oleh seorang kesatriya manapun seorang dukuh. Kesadaran adalah sebuah peringatan untuk kembali kepada jalan yang benar berdasarkan Tri Kaya Parisudha yaitu: berfikir, berkata-kata dan berprilaku yang baik dan benar.
Pertarungan dahsyat adalah sebuah wibawa kekuatan rwa-bhineda dan akan menjadi bermakna jika di hayati sebagai kesadaran. Dengan kesadaran lahir dan batin berbagai sifat-sifat emosional, marah, sombong dapat dikendalikan dengan intropeksi dan penyucian diri “ Sudamala†menuju kehidupan yang damai dan harmonis di jagat Nusantara
Penata Tari : Juan Adi Saputra
Penata Kerawitan : Sang Nyoman Arsa Wijaya