Lomba Lelakut Serangkaian Hut Kota Denpasar Ke XX Tahun 2012
Serangkaian Hut Kota Denpasar Ke XX Tahun 2012 akan dilaksanakan Lomba : LELAKUT, SUNARI dan PINDEKAN. Pelaksanaannya pada hari Senin, 20 Pebruari 2012, bertempat di Subak Intaran Timur. Masing – masing Subak yang dikelompokkan per – Kecamatan mengeluarkan 2 paket (Lelakut berpasangan laki – perempuan, Sunari – Pindekaan).
Tattwa Rare Angon menjelaskan tentang asal-usul adanya manusia, (karena adanya) pertemuan Rare Angon dengan Rare Cili yang merupakan hakekat Pradhana-Purusa, Dengan pemasangan Patakut di sawah menunjukkan adanya pemujaan Pradana-Purusa, dengan pertemuan inilah segala sesuatu akan berhasil. Kalau ditinjau dari konsep Pura, bahwa Pradhana Pura Batur yang merupakan Pura Subak dengan Dewi Danuhnya. Purusa adalah Pura Besakih sebagai pemujaan Dewa Putranjaya ( Siwa ). Maka jelaslah Krama Subak sudah melaksanakan konsepsi mono dualistic dalam ajaran Hindu.
Pemasangan Sundari pada Upacara Usabha itu merupakan pralambang Dewi Wasundari yang tiada lain dari†Dewi Kesuburan “. Kata Sundari berarti keharmonisan; Wasundari berasal dari kata Wasun = kesuburan, hasil tambang, dhari = mengandung, mempunyai. Jadi Wasundari berarti mempunyai kesuburan. Maka harapan yang ada pada upacara Usabha itu adalah suatu keharmonisan hubungan antara krama dengan krama, krama dengan Ida Sang Hyang Widhi, krama dengan mahluk yang lebih rendah. Oleh karena itu kesuburan, kesejahteraan dapat dicapai.
Disamping permasalahan Upacara yang dilakukan oleh Krama Subak ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk menjaga keharmonisan tersebut salah satunya adalah dengan cara Merana menurut lontar, pamulur pantun sarana penolak padi dirusak oleh burung dengan memakai sarana seperti : Sarana penangkal : buatkan 2 ( dua ) buah petakut yang berwujud laki-laki dan perempuan dan pasang disawah. Kedua petakut itu disembur dengan kesuna jangu tiga kali. Hari yang tepat untuk memasang petakut ialah pada hari Kajeng Kliwon dengan upakara canang dua tanding, berisi buah-buahan dan nyah-nyah gringsing. Petakut ini disuguhkan upakara tersebut diatas selama tiga kali Kajeng Kliwon. Selain dari pada petakut juga dipasang sundari dan pindekan ditempat pengalapan. Pindekan itu sendiri dilihat dari putranya melambangkan keharmonisan. Suara sundari dan pindekan menggambarkan suara kedua petakut yang dipasang.