LOMBA LELAKUT, PINDEKAN, DAN SUNARI
Lelakut, Pindekan, dan Sunari dilombakan kembali di Kota Denpasar. Kegiatan ini dilaksanakan serangkaian dengan Hari Ulang Tahun Kota Denpasar Ke – 225. Lomba ini dilaksanakan pada jumat,16 Februari 2013, pukul 08.00 - selesai di Subak Dalem, Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara.
Lomba ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu Lomba Lelakut serta Lomba Pindekan dan Sunari. Pemenang lomba lelakut mendapatkan hadiah, berupa piala, piagam penghargaan, dan uang. Juara I Rp. 5.000.000; juara II Rp. 4.500.000; juara III Rp. 4.000.000; dan juara IV Rp. 3.500.000. hadiah serupa juga diberikan kepada pemenang Lomba Pindekan dan Sunari.
Lelakut, pindekan, dan sunari pada prinsipnya dimaksudkan menakut-nakuti burung yang biasanya memakan padi di sawah. Walaupun demikian, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kreativitas petani terutama generasi muda agar semakin meminati pekerjaan bertani yang sudah semakin ditinggalkan. Lomba ini dimaksudkan hendak mengingatkan generasi muda Bali bahwa struktur sosial mereka sesungguhnya berkarakter agraris.
Lelakut, pindekan, dan sunari merupakan seperangkat instrumen yang dipasang selama padi belum dipanen. Biasanya sepasang lelakut (laki-laki dan perempuan) dipasang bersamaan dengan pindekan dan sunari. Demikian juga pada perlombaan ini penilaian ditekankan pada kelengkapan seperti ini, yakni setiap perserta menyiapkan seperangkat lelakut, pindekan dan sunari untuk dinilai.
Persyaratan pembuatan lelakut, antara lain badan lelakut dibuat dari bahan jerami, topi bentuk kukusan dari klangsang (tanpa plastik), dilengkapi dengan bawang merah, bawang putih dan jangu. Pindekan dan sunari dibuat dari bambu santona atau bambu tamblang. Penilaian lelakut, pindekan, dan sunari meliputi proses, keindahan, keserasian, dan aci-aci.