Menu

TIM PENILAI DAN STT SEPAKAT

  • Kamis, 15 Januari 2015
  • 5147x Dilihat

Denpasar, Tim Penilai Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2015 akhirnya memutuskan, ogoh-ogoh yang ikut seleksi tahun ini harus total menggunakan bahan tradisional yang ramah lingkungan. Hal tersebut diungkapkan Butu Antara salah seorang Ketua Tim Penilai usai menggelar rapat dengan para perwakilan STT, Desa/Lurah, Kecamatan Se-Kota Denpasar, Kamis (8/1) di Studio Lila Ulangun Kantor Disbud Denpasar.

 
Mudah didapat, mudah dibentuk dan indah dilihat, hal inilah yang menjadi alasan kenapa masyarakat lebih condong memilih styrofoam sebagai bahan utama ogoh-ogoh. Tak dipungkiri memang sejak dikenalnya styrofoam, masyarakat tak lagi melirik bambu sebagai bahan utama membuat ogoh-ogoh. Namun dibalik kevaforitan bahan tersebut, tak disadari styrofoam ternyata mengandung zat kimia beracun berbahaya benzana. Yaitu zat yang dapat merusak saraf dan kekebalan tubuh manusia  jika terhiruf apalagi terkonsumsi. Zat ini bisa mengakibatkan infeksi, keracunan, kanker, mandul, gangguan pernafasan, dan lain-lain. Menyadari akan bahaya tersebut, seluruh STT di Kota Denpasar akhirnya sepakat tak lagi menggunakan styrofoam sebagai bahan dasar membuat ogoh-ogoh. Pernyataan sikap positif dari kalangan generasi muda inipun disambut positif pula oleh pemerintah maupun kalangan masyarakat umum. Dibuktikan dengan keluarnya keputusan bersama yang dituangkan dalam butir-butir kreteria seleksi ogoh-ogoh 2015. Yang menyatakan bahwa para peserta seleksi ogoh-ogoh tahun 2015 diwajibkan  menggunakan bahan tradisional. Seperti menggunakan bambu untuk bahan ulatan kepala, badan ataupun lengan. Atau boleh juga menggunakan bahan kayu untuk tapelnya termasuk menggunakan besi untuk rangkanya. Disamping itu untuk rambut panitia juga membolehkan menggunakan bahan lain asalkan tidak Styrofoam.
Sementara Kadis Kebudayaan Md. Mudra ditemui ditempat terpisah mengatakan, baginya ini adalah pilihan cerdas. Kenapa demikian, jika ini dipaksanakan selain merugikan diri sendiri dan orang lain karena zat yang dikandungnya. Nilai kebersaman dan gotong-royong yang diajarkan leluhur kita bisa hilang, ungkapnya. Memang, dipilihnya bahan Styrofoam tak lepas dari jiwa kreatifitas para generasi muda yang selalu ingin berinovasi. Namun mengingat dampak yang ditimbulkan dapat mengancan keselamatan manusia dan lingkungan ya harus kita hindari, jelasnya. (Sdn.Humbud.Dps.).