Menu

Tim Pembina Propinsi Apresiasi Kesiapan Duta PKB Denpasar

  • Senin, 02 Mei 2016
  • 761x Dilihat

Denpasar, Tak dipungkiri memang setiap hajatan PKB, Kota Denpasar selalu lebih awal menyiapkan para dutanya. Ini dibuktikan dengan kesiapan duta Denpasar menerima Pembina Propinsi lebih awal dari jadwal yang ditentukan terhadap seluruh cabang yang akan dipentaskan baik yang berupa lomba maupun parade. Bahkan untuk PKB kali ini Denpasar kembali mengirim 27 cabang seni dari 25 cabang yang wajib diikuti seluruh Kabupaten/Kota. Untuk itu Tim Pembina Propinsi menyatakan salut dan mengapresiasi kesungguhan dan komitmen yang ditunjukkan Pemerintah Kota Denpasar. Hal tersebut diungkapkan Kadis Kebudayaan Propinsi Bali Dewa Beratha saat meninjau pelaksanaan pembinaan terhadap duta seni Denpasar seperti; Sekaa Gong Anak-Anak, Wanita dan Dewasa, Sabtu (30/4) di Pr. Dalem Suwung Batan Kendal Denpasar Selatan. Turut mendampingi Sekda A.A. Rai Iswara, Perwakilan DPRD Kota, Plt. Kadisbud Nym. Sujati, Camat Densel Gung Risnawan beserta segenap jajaran dan undangan penting lainnya.

Pesta Kesenian Bali (PKB) yang kini memasuki usia ke 38 digelar setiap tahun Pemerintah Propinsi, selalu menjadi ajang kreatifitas bagi para seniman diseluruh Bali tak terkecuali bagi para seniman Denpasar. Selain selalu menampilkan garapan atau karya-karya terbaru, duta seni Denpasar juga selalu menghadirkan seniman-seniman muda berbakat. Hal ini berkat sistim pembinaan yang diterapkan Kota Denpasar begitu terstruktur dan berjenjang mulai dari tingkat banjar hingga Kecamatan. Tak dipungkiri jika setiap tahun ada saja seniman-seniman muka baru muncul. “Meregenrasi seniman jauh lebih penting ketimbang mencari juara”, demikian dikatakan Ketut Suandita,S.Sn salah seorang pembina sekaligus pencipta dan penata tabuh Kota Denpasar. Menurutnya, tantangan kedepan adalah bagaimana upaya kita untuk melestarikan seni dan budaya yang kita miliki dengan meregenerasi seniman baik seni klasik maupun modern. Sebab tantangan yang paling nyata yang kita hadapi sekarang adalah kuatnya gempuran modernisasi. Modernisasi mampu merubah prilaku atau mainset seseorang menjadi malas, apreori, instan dan sebagainya jika kita tak cerdas mengantisipasinya. Modernisasi juga terbukti mampu menjauhkan orang dari akar budayanya atau apreriori terhadap budayanya sendiri. Bukti yang paling nyata dibeberapa daerah sekarang ini masih kesulitan meregenerasi para senimannya. Khususnya kesenian klasik seperti; arja, drama, topeng, bondres, wayang dan lain sebagainya. Gederasi muda kita cenderung senang dengan hal yang berbau hura-hura dan cenderung sulit diatur. Lihat saja kemarin anak-anak yang ikut Porsenijar apakah itu atlet atau suporternya, kesana-kemari meraung-raungkan kendaraan. “ Apakah ini budaya kita”, bahkan tak tampak seorang aparat pun yang berupaya mencegah, jelasnya. Padahal dengan berkesenian, prilaku generasi muda diharapkan lebih terkendali, berprilaku sopan dan memiliki komitmen yang kuat terhadap upaya menjaga dan melestarikan seni dan budaya yang dimiliki. (Sdn.Humbud.Dps.).