Denpasar, Penampilan para seniman Denpasar di Kota Kendari Sulawesi Tenggara Minggu lalu terbilang sukses. Tampil selama satu setengah jam membawakan fragmen tari berjudul “Satrya Wira Puja”, malam itu seniman Denpasar benar-benar pukau masyarakat Kendari, Minggu (15/11) di Areal Lapangan Benu Benoa MTQ Kendari dalam rangka Festival Keraton Nusantara III dan Masyarakat Adat ASEAN.
Tampil diacara pamungkas, tak menyurutkan niat seniman Denpasar untuk tampil maksimal. Bahkan sebaliknya, oleh panitia kehadiran seniman Denpasar tampil sebagai pengisi diakhir acara diharapkan mampu menjadi magnet sekaligus berharap penonton tak buyar. Benar adanya, menjelang seniman Denpasar tampil, penonton tampak semakin berjubel. Hadir dengan tabuh kreasi dan tari Jempiring sebagai pembuka, Vidia, Diah, Sri dan penari lainnya tampak begitu ekspresif membawakan tari Jempiring yang menjadi tari maskot Kota Denpasar. Digawangi Gung Putra selaku penabuh, duta seni Kota Denpasar benar-benar menjadi magnet dan pusat perhatian bagi penonton dan seluruh delegasi keraton Se-Nusantara. Racikan fragmen tari “Satrya Wira Puja” yang dikemas dalam bentuk palegongan benar-benar memukau. Diceritakan, pada masa pemerintahan Raja Denpasar yang berniat untuk memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah Sasak Lombok. Demikian pula halnya dengan Raja Sasak (bugis) yang sama-sama berkeinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan hingga ke tanah Bali. Sama-sama berkeinginan memperluas wilayah kekuasaan, akhirnya kedua Raja sepakat untuk melakukan perang tanding lewat perang sata (adu ayam). Dalam perang adu ayam ini, Raja Denpasar akhirnya mampu memenangkan pertarungan. Tidak sampai disana, Raja Sasakpun akhirnya kembali menantang Raja Denpasar untuk perang dengan adu jangkrik. Pada saat itulah ketika terjadi pertarungan hebat jangkrik Raja Denpasar berubah menjadi Banaspati (Barong) dan Raja Sasak tak mau kalah beliau merubah rakyat Bugis menjadi Banaspati Raja (Rangda). Setelah bertarung begitu sengitnya akhirnya Raja sasak mengakui kekalahannya dengan menyerahkan sepenuhnya rakyat dan wilayahnya tunduk pada Raja Bali. Memadukan iringan musik palegongan dengan bebarongan, suguhan ini benar-benar mampu membuat seluruh penonton tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. (Sdn.Humbud.Dps.).
26 Januari 2026
13 Januari 2026
29 Oktober 2025