Bentuk dan Kreatifitas Alami Peningkatan
Denpasar, Tak dipungkiri memang, 140 ogoh-ogoh yang ikut serta dalam seleksi ogoh-ogoh Empat Kecamatan yang digelar Disbud Denpasar baru lalu. Tak satupun diantaranya ditemukan bahan styrofoam, gabus atau spon sebagai bahan dasar. Bahkan dari sisi kreatifitas, rancangan para Sekeha Teruna (ST) terus alami peningkatan dengan memanfaatkan tehnologi sebagai penunjang bentuk maupun rancang bangunnya. Demikian dikatakan Ir. I Wayan Meganada,MT koordinator Tim Seleksi Ogoh-ogoh usai melakuka rapat penentuan nominasi, Minggu (29/2) di Ruang Studio Lila Ulangun Disbud Denpasar.
Dikatakan Meganada, dirinya salut dengan kesadaran dan kreatifitas para sekeha teruna dalam mempersiapkan karyanya. Seperti bahan styrofoam, kali ini seluruh peserta yang berjumlah 140 ogoh-ogoh sudah tak menggunakannya. Beda dengan pelaksanaan pada tahun I dan II sejak panitia memutuskan kembali kebahan dasar alami ulat-ulatan 2014 dan 2015 lalu. Masih ditemui adanya bahan styrofoam sekitar 20 % dari 129 peserta. Namun berkat kesadaran, kesungguhan dan tekad yang membara akhirnya semua itu bisa dilalui. Bahkan kini kematangan dalam merancang bentuk (terutama struktur tubuh) maupun rancang bangun dengan bahan dasar bambu, kertas dan sebagainya semakin nyata. Terbukti semua ogoh-ogoh baik bentuk, tata pewarnaan, ekspresi dan rancang bangun sangat mumpuni, terang Meganada. Hal ini menepis anggapan beberapa pihak termasuk para juri bahwa bahan alami sulit untuk dibentuk. Bahkan tidak itu saja, kecerdasan dan kreatifitas sekeha teruna makin nampak tatkala mereka mampu memanfaatkan dan mengkolaborasikan bahan alami yang mudah ditemui sebagai bahan dasar ogoh-ogoh. Seperti kacang ijo, tembakau, benang kemong, arang, kertas koran, kulit jagung dan sebagainya. Plus pemanfaatan tehnologi yang sungguh membanggakan buat kami para juri, ujar Meganada. Seperti salah satunya ogoh-ogoh karya ST. Dharma Laksana Br. Kaja Panjer Densel yang memanfaatkan tehnologi android sebagai penggerak, ini kan kemajuan luar biasa. Demikian pula dengan ogoh-ogoh karya ST. Yowana Kesuma Sari Batan Poh Penatih-Dentim dan ST. Tunas Muda Dukuh Mertajati Sidakarya-Densel. Disamping pintar memanfaatkan bahan limbah alami, sentuhan tehnologinya juga sangat memadai. Dengan kenyataan seperti ini, tahun depan dirinya yakin persaingan antar peserta akan semakin ketat, terangnya.
Sementara Plt. Kadisbud Denpasar Dra. Ni Nyoman Sujati,MM dalam kesempatan terpisah mengatakan, salut akan kreatifitas para generasi muda khususnya para sekeha teruna dalam berkarya. Dengan kegiatan ini paling tidak hubungan komunikasi antar sekeha teruna dimasing-masing banjar akan semakin terbangun. Disamping memfungsikan kembali banjar kejati dirinya sebagai tempat berkumpul, beraktifitas dengan berbagai kegiatan yang positif dalam rangka memperkuat benteng budaya masyarakat Bali. Kegiatan ini juga diperuntukkan sebagai ruang kreatifitas budaya bagi para generasi muda. Sekaligus sebagai tonggak umat hindu dalam memasuki tahun baru saka 1937 dengan harapan mampu memberi berkah keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia khususnya Hindu. (Sdn.Humbud.Dps.).
29 Oktober 2025