Menu

Sambut Hut Kota ke 228

  • Rabu, 17 Februari 2016
  • 970x Dilihat

Disbud Gelar Lomba Lelakut, Sunari dan Pindekan

Denpasar, Lelakut, pindekan dan sunari oleh masyarakat petani di Bali khususnya Denpasar tentu keberadaannya sudah tidak asing lagi. Disamping bentuknya sebagai sebuah kreatiftas selepas kesibukan petani mengolah sawah. Lelakut, pindekan dan sunari umumnya juga dipakai sebagai sarana penakut untuk mengusir burung. Guna melestarikan produk persawahan ini, Disbud Denpasar menggelar Lomba Lelakut, Sunari dan Pindekan. Lomba dibuka langsung Plt. Kadisbud Denpasar Dra. Ni. Nym. Sujati,MM ditandai dengan membunyikan kepuawakan, Rabu (17/2) di Pasar Desa Anggabaya Kelurahan Penatih-Dentim.

Plt. Sujati mengatakan, selain bentuk dan suaranya yang khas, lelakut, pindekan dan sunari juga mampu menciptakan dan menambah indahnya suasana di persawahan. Untuk melestarikan kearifan lokal yang adiluhung ini, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan lewat berbagai ajang terus berkomitmen untuk melstarikan karifan budaya lokal ini. Diantaranya Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari yang digelar setiap perayaan HUT Kota Denpasar setiap tahunnya. Dengan melibatkan para anggota subak seluruh Kecamatan yang ada di Kota Denpasar termasuk para generasi muda (STT) di Kota Denpasar, jelasnya.

Sementara Ketua Forum Pekaseh “Semaya Matika” Kota Denpasar I Wayan Jelantik, lomba kali ini diikuti oleh Subak Se-Kota Denpasar dan Sekeha Teruna-Teruni (STT). Hal ini didasari atas keinginan dan komitmen Walikota Denpasar IB Rai D. Mantra untuk terus mendorong kreatifitas para petani dan para generasi muda. Agar mengenal dan terus berupaya melestarikan warisan budaya nenek moyang. Dilibatkannya para generasi muda dalam ajang ini, mengingat generasi muda merupakan tulang punggung masa depan pembangunan bangsa. Sekaligus bertujuan  mengingatkan para generasi muda tentang makna sesungguhnya dari lelakut, pindekan  dan sunari. Sehingga kearifan budaya lokal yang kita miliki nantinya tidak hilang termakan jaman, bahkan sebaliknya tetap eksis ditengah gempuran peradaban modern. Dijelaskan pula, dalam pelaksanaan lomba lelakut, pindekan dan sunari untuk memudahkan penilaian masing-masing peserta oleh Tim juri telah dikelompokkan kedalam wilayah kecamatan masing-masing. Untuk penilaian, para juri juga lebih menekankan pada proses dan cara pembuatannya secara langsung. Dengan ketentuan masing-masing peserta diwajibkan membuat sepasang Lelakut, pindekan dan sunari (lanang-wadon) dengan bahan yang telah ditentukan seperti; jerami, bambu dan lain-lain yang ramah lingkungan lengkap dengan sarana upakaranya atau aci-aciannya. Hal yang dinilai, mulai dari proses pembuatan, bentuk/rancang bangun, kreatifitas, keserasian, cara memasang serta jenis upacaranya. Bagi pemenang, panitia menyediakan hadiah berupa uang, piala dan piagam untuk juara I, II, III dan IV. Pada puncak hari penilaian, peserta melalui ketuanya masing-masing juga diberi  kesempatan untuk memaparkan hasil garapannya termasuk menjelaskan apa dan bagaimana makna dan filosopi serta esensi upacaranya. Dari kegiatan ini Pemerintah Kota  berharap agar budaya yang mengandung kearifan lokal mampu dipertahankan dan dikembangkan. Mengingat lelakut, pindekan dan sunari merupakan identitas dari sebuah kegiatan keseharian para petani yang diwariskan nenek moyang terdahulu yang patut dijaga, digali, dikembangkan serta dipahami makna dan filosopinya. Dan selanjutnya dapat diwariskan pada para generasi muda khususnya anak cucu nanti. (Sdn.Humbud.Dps.​