Denpasar, Memperingati HUT Kota Denpasar ke 227, Puri Agung Denpasar bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Radio Pemkot 92,6 FM, menggelar lomba Tari Legong Lasem. Tercatat 45 sanggar tari ikut ambil bagian dalam lomba kali ini memperebutkan Piala Bergilir dan Piala Tetap Walikota Denpasar. Demikian A.A. Ngr Joniartha ketua panitia lomba mengatakan dalam laporannya. Lomba dibuka langsung Walikota Denpasar IB Rai D. Mantra ditandai dengan pemukulan kendang. Turut hadir Sekot Denpasar Rai Iswara, Penglingsir Puri Cokorda Jambe Pemecutan, Kadis Kebudayaan Md. Mudra, Ketua DPRD A.A. Gde Ngurah, Camat, Kades/Lurah, Kadus/Kaling, Minggu (8/2) di Jaba sisi Pura Agung Satrya Denpasar.
Menurut Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan, digelarnya lomba tari kali ini disamping bertujuan untuk memeriahkan HUT Kota Denpasar yang ke 227. Juga dalam rangka untuk menjalin tali silaturahmi antara keluarga Puri Agung Denpasar dengan para sisyanya dan masyarakat umum, terangnya. Mengingat Puri sejak jaman dahulu memiliki ikatan emosional yang begitu lekat dengan para abdinya. Disamping Puri memiliki andil dan peran yang sangat strategis dalam upaya mengajegkan seni dan budaya Bali. Lomba kali ini khusus melibatkan anak-anak tingkat Sekolah Dasar yang bernaung dibawah sanggar-sanggar tari di Kota Denpasar, secara gratis. Dipihnya jenis Legong Kraton Lasem mengingat tarian ini menjadi dasar dari semua jenis tarian disamping merupakan sebuah tarian klasik khas Bali.
Hal tersebut dibenarkan pula oleh Dr. Ni Md. Wiratini,S.St,M.Sn salah seorang dewan juri. Menurutnya, legong lasem awalnya dikembangkan oleh keraton-keraton di Bali pada abad ke-19. Konon idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap. Bahkan menurut catatan sejarah, penari legong yang menarikan awalnya adalah dua orang gadis yang belum mendapat menstruasi. Ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Legong ini selalu dilengkapi dengan asesoris kipas serta gelung yang khas. Kemudian dalam perjalanannya tari inipun mengalami inovasi dengan menambah seorang penari lagi yang disebut condong. Sementara struktur tarinya pada umumnya terdiridari papeson, pangawak, pengecet,dan pakaad.
Ditambahkanpula,bahwa dalam perkembangannya legong lasem juga sempat kehilangan popularitas di awal abad ke-20 oleh maraknya bentuk tari kebyar dari bagian utara Bali. Usaha-usaha revitalisasi baru dimulai sejak akhir tahun 1960-an, dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi Legong Lasem (Kraton). Tari ini mengambil dasar cerita panji pada abad ke-12 dan13, masa kerajaan Kediri. Tentang keinginan Prabu Lasem untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha Kadiri dengan cara menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, Raja Kadiri yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha. (Sdn.Humbud.Dps.).
26 Januari 2026
13 Januari 2026
29 Oktober 2025