Menu

PEMKOT DENPASAR OPTIMIS

  • Senin, 11 Mei 2015
  • 710x Dilihat

Dibalik Sulitnya Meregenasi Kesenian Arja

Denpasar, Berpredikat sebagai Kota Metropolitan, tak membuat Denpasar melupakan unsur ketradisionalannya. Dengan Visi “Denpasar Sebagai Kota Budaya”, Pemkot terus bergerak memperkokoh jati dirinya sebagai Kota Budaya dengan terus menggali, melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya serta berbagai kearifan lokal yang dimiliki. Seperti; mendorong sekeha-sekaha Arja di Kota Denpasar untuk terus menggali dan meregenerasi diri agar tetap eksis. Seperti ditunjukkan sekeha kesenian Arja Br. Tanjung Bungkak Klod Dentim selaku duta Denpasar diajang PKB ke 37. Yang sebagian besar menampilkan seniman-seniman muda dan siap dibina paling awal. Dalam pembinaan kemarin, beberapa nama kondang hadir seperti; Md Madia (seniman tabuh), Sang Kt. Pesan Sandiyasa alias Pak Tomat (seniman Arja dan Bondres) serta didampingi Kadis Kebudayaan Md. Mudra beserta jajarannya, Jumat (8/5) di Br. Tanjung Bungkak Klod Dentim.

Pernah eksis di era 60 hingga70an dengan tokoh-tokoh yang melegenda seperti; monjong, sadru, ribuwati, liges dan lain-lain. Kesenian Arja pada era tersebut seakan-akan menjadi magnet bagi masyarakat pencinta seni. Namun seiring dengan berkembangnya jaman, kesenian Arja sekarang ini sepertinya mati suri. Menurut Luh Camplung salah seorang seniman Arja yang sering memainkan tokoh Desak Rai mengatakan, keterpurukan kesenian ini banyak disebabkan oleh makin sedikitnya keinginan para genereasi muda untuk mau menekuni kesenian warisan leluhur ini. Bahkan dibeberapa daerah, kesenian Arja sekarang ini sudah tak terdengar lagi gaungnya. Beda dengan Kota Denpasar, kesenian Arja di kota ini cukup terpelihara dan masih bisa eksis. Menurutnya pula, untuk melestarikan kesenian ini harus ada kepedulian dan keberpihakan dari semua pihak terutama dari para pemangku kebijakan, imbuhnya. 

Sekeha Arja Br. Tanjung Bungkak Klod yang menamakan dirinya Sekaha Arja “Ratu Manik Sekar” kemarin tampil cukup memukau. Beranggotakan 11 orang, sekaha ini mampu memainkan secara utuh lakon yang dibawakan. Namun demikian ada beberapa hal yang menurut dewan pembina perlu pembenahan. Seperti disampaikan Sang Tut Pesan Sandiyasa salah seorang pembina bahwa secara alur cerita atau keutuhan cerita sudah bagus. Namun sisi penguasaan panggung, gending/suara, komunikasi dan ekspresi atau penjiwaan perlu dipertajam lagi, jelasnya. Sementara Md. Madia salah seorang seniman tabuh menyoroti dari sisi gerak tabuh sebagai pengiringnya. “Mengiringi Arja sinergitas penabuh dan penari harus betul-betul terbangun, tak boleh lengah”, jelasnya. Selain itu suara tabuh harus jelas jangan gabeng, ini penting diperhatikan. Tujuannya agar para pemain tak ragu-ragu dalam mengambil angsel dalam memainkan lakon atau tariannya, terang Madia. Menurutnya, dalam sisa waktu yang masih cukup lama, sekeha ini masih bisa berbenah, imbuhnya. (Sdn.Humbud.Dps.).