Pementasan Wayang Wong Griya Jelantik Disambut Antusias Pada Hari Terakhir PKB
Tampil di hari terakhir pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXII, sabtu (10/7) kemarin dipentaskan wayang wong dengan lakon " Lata Mahosadi ", oleh sekaa Wayang Wong Griya Jelantik, Desa Pakraman Intaran Sanur Kauh, Densel.Pementasan yang diambil dari epos Ramayana ini diperkuat 80-an seniman, disambut antusias penonton yang memadati panggung pementasan, kalangan Ayodya Taman Budaya Denpasar.
Sebagian pendukung baik penabuh dan penarinya berasal dari kalangan muda. Setidaknya generasi muda sudah mau terlibat dan bisa mencintai kesenian klasik ini. Salah seorang pembina, Suteja, mengungkapkan jika kesenian ini telah direvitalisasi sekaligus ada generasi penerusnya.
Pada pementasan kemarin, diceritakan gugurnya Senapati Kumbakarna membuat Raja Rahwana sedih. Atas usul Patih Kumba, Raja Rahwana disuruh mengangkat Meganada menjadi senapati untuk menghadapi pasukan Ramadewa. Meganada yakin dapat membunuh Sri Rama karena di berikan panah sakti oleh ayahandanya bernama Wimohanasara. Berbekal senjata itu Meganada berangkat dan menghadang laju perang pasukan ayodya. Sementara pihak Sri Rama bersama pasukan pasukan kera merasa gembira karena telah berhasil membunuh Kumbakarna. Namun Rama disuruh tetap waspada karena Meganada diangkat menjadi senapati bersenjatakan panah sakti. Atas permohonan Wibisana , sang Rama disuruh memperingatkan Sugriwa agar mempersiapkan pasukan menghadapi serangan Meganada.
Benar adanya, pasukan Meganada. Menyerang pasukan Sri Rama. Disitulah meganada melepaskan senjata Wimohanasara yang mengenai tubuh laksamana. Melihat kejadian itu Sri Rama sedih, guna bisa mengobati laksamana pulih kembali, Wibisana menyuruh Rama memerintahkan Hanoman agar pergi mencari obat mujarab bernama Lata Mahosadhi. Hanya tumbuhan itu yang dapat menyembuhkan Laksamana. Namun obat itu hanya ada di Gunung Himawan.
Berangkatlah Hanoman ke Gunung Himawan. Tetapi setelah tiba disana, Hahoman bingung , tidak tahu rupa Lata Mahosadhi. Akhirnya, diangkatlah puncak Gunung Himawan yang dipenuhi banyak tumbuhan, yang di dalamnya terdapat Lata Mahosadhi, kemudian diserahkan kepada Wibisana. Wibisana kemudian mengambil Lata Mahosadhi. Tumbuhan obat tersebut kemudian diracik dan digunakan mengobati Laksamana. Akhirnya, laksamana sembuh kembali. Nyawanya bisa diselamatkan dari racun sakti senjata Meganada.
Pengempon Wayang Wong Griya Jelantik Ida Bagus Raka dan piñata tari Ketut Suteja, merupakan satu-satunya masih bertahan di Kota Denpasar. Kesenian Wayang Wong di Griya Jelantik sudah ada di masa silam, persisnya sekitar tahun 1.900 M. Pementasan sering dilakukan saat upacara " Ngeraja Kuning " di alun-alun semasa pemerintahan Cokorda Denpasar. Selanjutnya di masa penjajahan Belanda kesenian ini tetap eksis dengan pementasan yang dilakukan di Jaba Griya.
Kesenian ini sempat kurang dikenal masyarakat. Selanjutnya dibangkitkan kembali tahun 2005 saat diadakannya lomba desa. Menurutnya kesenian Wayang Wong akan tetap lestari dengan salah satu tokohnya, Sang Hyang Maruti/ Hanoman sangat disakralkan. Beliau diistanakan di pelinggih Gedong Pesimpenan di Merajan Suci Griya Jelantik, Desa Pakraman Intaran Sanur Kauh, Densel. Setiap tumpek wayang dilakukan piodalan sehingga kesakralannya tetap terjaga. Selain itu juga sering terlibat setiap acara Ngusaba Desa Pakraman Penyaringan.