Menu

PAWAI DUTA KOTA DENPASAR DALAM RANGKA PKB XXXII TAHUN 2010

  • Senin, 14 Juni 2010
  • 1731x Dilihat
PENDAHULUAN Denpasar adalah kota yang tidak terlepas dari fakta sejarah, dimana geliat ekonomi, interaksi sosial dan akulturasi budaya tumbuh dan berkembang dengan pesatnya, sebagai kota yang berawal dari peradaban sejarah kerajaan dan situs-situs Puri yang cukup menjadikan Kota Denpasar sebagai kota yang tumbuh dengan nuansa religius dan peradaban Budaya yang cukup beragam. Mengikuti Tema PKB XXXII TAHUN 2010 (Bhuana Kreti) dengan pemaknaan penyucian diri dimana pemahamannya sangat universal, selain mengandung makna filosofis juga menyiratkan nuansa perhelatan seni budaya seperti: prosesi ritual, gelar seni pertunjukan, gelar seni rupa, seperti lazimnya apa yang dilakukan masyarakat Bali. Materi Sajian Kejayaan Jaman Kerajaan di Denpasar Diawali dengan atribut kebesaran Puri Denpasar dengan property Umbul-umbul, bandrangan tombak, Kober, Payung pagut dan berbagai macam simbol-simbol kerajaan yang ditampilkan sebagai bentuk sajian dimana diceritakan ketika Raja dan Permaisuri hendak anjangsana melihat bagaimana kehidupan rakyatnya. Dikawal dengan pasukan punggawa berkuda adalah merupakan pasukan elit pada jamannya yang menyeruak jalan sebagaimana tujuan yang akan dituju.Demikian juga para prajurit kerajaan yang akan menjadi tameng hidup untuk melindungi Sang Raja. Dengan diiringi rakyat, emban dan dayang istana dan tentunya berbagai bawaan yang dibutuhkan dalam lawatannya. Maha patih dan punggawa pembesar kerajaan dan pendeta kerajaan menghantar perjalanan anjang sana tersebut. Kereta kuda kebesaran yang menjadi singgasana Raja dan permaisuri membawa kebesaran sebuah cerita kehidupan kerajaan sebagai kilas sejarah peradaban yang tumbuh sebelum Kota Denpasar ini lahir. Iringan tetabuhan Gong Suling menghantarkan prosesi kerajaan tersebut di dalam perjalannya. Lambang Kota Denpasar Kebesaran kerajaan telah tersajikan sebagai ilustrasi Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya yang terbentuk tentunya bermula dari fakta sejarah yang ada, selanjutnya kebesaran Kota Denpasar akan ditunjukkan dengan berbagai atribut pemerintahan yang juga sebagai simbol sebuah Ibu Kota Provinsi Bali. Diawali dengan property Pemerintahan Kota berupa bendera merah putih, umbul-umbul, bendera Kota Denpasar dan berbagai atribut lainnya. Yang merupakan prosesi barisan kebesaran Kota Denpasar. Truna-truni, dengan berbagai busana adat dan busana pengembangan yang merupakan hasil binaan Kota Denpasar yang akan memberikan kontribusi yang sangat baik bagi geliat binaan Sumber daya manusia Kota Denpasar. Lambang Kota Denpasar yang di usung dengan kereta hias dengan tarikan kuda hias dengan di percantik Tata Busana Payas Agung sebagai Pagar Ayu Lambang Kota Denpasar tersebut.Iringan gambelan Semarepagulingan yang kan menghantarkan prosesi lambang tersebut yang akan memberikan nuansa kesejukan dan keindahan di dalam sajian ini. Upacara Tawur Adat dan budaya adalah komponen yang selalu bergandengan dan menumbuhkan berbagai bentuk ekspresi dalam berkesenian. Bagian dari unsur budaya dan adat masyarakat Kota Denpasar adalah prosesi upacara yang disebut dengan yadnya, yang wajib dilaksanakan dan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali dan umat Hindu. Yadnya yang dilakukan terbagi menjadi beberapa tingkatan yang dikenal dengan sebutan Panca Yadnya. Di dalam prosesi ini akan ditampilkan bentuk prosesi upacara Pencaruan dalam tingkatan Tawur Agung yang sebagian kecilnya dapat disajikan dalam pawai ini.Pemaknaan pelaksanaan tawur adalah merupakan proses penyucian dalam bentuk persembahan kehadapanNya. Dikawal dengan Proses Baris Tombak yang merupakan kelengkapan dari aedan upacara dan Tarian Rejang Dewa sebagai wujud penyambutan ketika Betara-Betari turun menapak Buwana Agung untuk menyaksikan proses upacara tersebut.Gambelan Gambang sebagai salah satu wujud ( Panca Ma ) menjadi penghantar dalam prosesi ini. Atraksi Budaya Kelompok kegiatan tradisi yang tidak terlepas dengan nuansa ritual pada prosesi ini akan ditampilkan kegiatan ngerebong yang merupakan tradisi upacara ritual yang ada di Desa Adat Kesiman, dimana di sebuah pura besar ( Pengerebongan ) terdapat prosesi yang unik, pada waktu upacara tertentu setiap enam bulan diadakan kegiatan ngerebong dimana seluruh sesuhunan yang ada di Desa Adat Kesiman bahkan Sanur dan juga Pecatu dan lainnya tedun di Pura Pengerebongan, mengadakan upacara pertemuan dengan diiringi pada patih-patih yang akan mengikuti prosesi ngerebong tersebut. Ogoh-ogoh Sajian Ogoh-ogoh dengan Judul Sapuh Leger adalah merupakan pelaksanaan pengeruatan dan bentuk penyucian yang diambil sebagai simbol penebusan kelahiran yang bila lahir di Hari Tumpek Wayang yang sering disebut dengan istilah mebayuh. Ogoh-ogoh ini adalah merupakan hasil karya sekaa Truna Banjar Kasih sanur yang didalam pelaksanaan lomba Ogoh-ogoh pada perayaan Nyepi di Kota Denpasar mendapat predikat terbaik. Dengan diiringi gambelan beleganjur dan berbagai atraksi pengusungnya membawa keharmonisan dalam bentuk prosesi tersebut. PENUTUP Demikian sajian Pawai Duta Kota Denpasar pada PKB XXXII TAHUN 2010. Wujudkepedulian pemerintah Kota terhadap kesenian dan kebudayaan adalah merupakan tujuan Moto Pemerintah Kota Denpasar yang kreatif Berwawasan Budaya