Menu

PARADE GONG KEBYAR & KESENIAN KLASIK

  • Senin, 12 Oktober 2015
  • 851x Dilihat

Kian Diminati Masyarakat Denpasar

Denpasar, Kegiatan Parade Gong Kebyar dan Kesenia Klasik Kota Denpasar yang digelar setiap tahun, kian diminati dan dirasakan manfaatnya. Dibuktikan dengan terus membludaknya penonton memadati areal pertunjukan pada setiap pementasan. Bahkan kegiatan tersebut terbukti mampu membangkitkan roda perekonomian masyarakat Denpasar. Seperti bisnis fotografer jadi makin laris, pedagang kaki lima, asesoris dan lain-lain juga ikut kecipratan. Termasuk memudahkan para pembina maupun prajuru adat/desa dalam membentuk  sekeha gong baru. Tak terkecuali dalam melakukan regenerasi sekeha, sekarang semakin mudah mengingat banyak seniman bermunculan. Demikian diungkapkan Gusti Ngr Padang salah seorang pengamat seni usai menyaksikan aksi para peserta parade, Minggu (11/9) kemarin petang di Stage Lap. Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung.

Menurut Ngurah Padang, secara kualitas maupun kwantitas event tahunan ini boleh dikatakan terus mengalami peningkatan. Termasuk mampu memutar dan membangkitkaqn roda perekonomian masyarakat Denpasar, ujarnya. Bahkan menurutnya mereka yang terlibat dalam parade kali ini tidak sebatas usia remaja atau dewasa. Melainkan, mereka yang usia dinipun ikut berparade bahkan para ibu-ibu rumahtangga termasuk lansia ikut didalamnya. Ini artinya parade gong kebyar dan kesenian klasik yang digagas mantan Walikota Denpasar IB Rai D. Mantra sudah melibatkan segala usia. Dan sudah mampu menjadi wadah sekaligus ruang kreatifitas bagi para senimannya mulai usia dini hingga lansia. Dan kenyataan ini belum tentu ada ditempat lain, untuk itu Ngurah Padang berharap agar event ini terus dijaga baik jumlah dan kualitasnya disamping harus terus berkelanjutan.

Pada penampilan Jumat hingga Minggu petang kemarin, tampil sepuluh sekaha dari empat Kecamatan yang ada. Masing-masing berusaha menunjukkan kebolehan dan kepiawaiannya dalam menabuh bilah-bilah gamelan melalui garapan tabuh yang dibawakan lengkap dengan tariannya. Seperti ditunjukkan sekaha gong anak-anak “Dharma Winangun” Br. Pemalukan-Peguyangan Denut dengan sekeha gong anak-anak “Sida Gita Karya” Br. Dukuh Mertajati-Sidakarya Densel yang sama-sama tampil ngotot. Masing-masing membawakan satu tabuh kreasi karya alm. seniman I Wayan Berata serta dua buah tarian. Ulah dan aksi mereka yang begitu atraktif dengan jajar pageh seperti pengecek, tetekep dan tetekes yang sempurna membuat decak kagum para penikmatnya. (Sdn.Humbud.Dps.).