Menu

NGELAWANG PKB, Denpasar Tampilkan “Baruna Murti”

  • Senin, 22 Juni 2015
  • 1254x Dilihat

Denpasar, Duta seni PKB Kota Denpasar dalam Parade ngelawang kemarin tampil meriah, menampilkan garapan yang diberi judul “Baruna Murti”. Mengisahkan kemarahan Dewa Baruna terhadap Hyang Putranjaya dan Dewi Danu akibat perbuatan mencemari lautan dengan berbagai kotoran, Minggu (21/6) di areal panggung depan gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar.

Diawali pasepan dan berbagai jenis lelontek serta umbul-umbul warna-warni, duta ngelawang Kota Denpasar bergerak dan melangkah dengan mantap. Mengelilingi areal taman budaya untuk selanjutnya berhenti dipanggung yang ditentukan guna memperagakan berbagai bentuk garapan yang dikemas dalam bentuk tabuh, tari dan nyanyian. Menurut Nyoman Mardika selaku koordinator, untuk parade ngelawang kali ini pihaknya mengajak tidak kurang dari 50 orang seniman terdiri dari penabuh dan penari. Dan sebagian besar diantaranya adalah anak-anak remaja yang merupakan binaan banjar setempat disamping berasal dari hasil pelatihan gratis “Libur Sekolah” yang digelar Pemkot Denpasar. Menurutnya pula, kesenian ngelawang yang dibeberapa daerah kini mulai punah keberadaannya, harus terus dibangkitkan. Melalui berbagai kesempatan termasuk melalui ajang Pesta Kesenian Bali yang ke 37 ini. Sebab dalam tradisi ngelawang, banyak hal yang bisa diambil sisi positifnya. Seperti; terjalinnya interaksi dan komunikasi antar pemain dan penonton, secara akrab dan terbuka tanpa sekat. Serta memiliki getaran ritual magis yang dipercaya mampu menetralisir segala bentuk kekuatan jahat, terangnya. Menurutnya pula, berdasarkan mitologi tradisi ngelawang diduga berakar pada psikoreligi dari sebuah mitologi Hindu yaitu Siwa Tatwa. Yaitu dari kisah percintaan Dewa Siwa dan Dewi Uma yang dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Sehingga akibatnya bumi jadi bergetar, gunung meletus, laut mengamuk, hutan terbakar dan bencana lain menerjang. Sadar akan kejadian itu, Dewa Siwa mengutus para Dewa untuk menenangkan alam semesta agar tidak menyebarkan bencana. melalui persembahan kesenian yang disebut “Ngelawang”. Maka sejak saat itulah keadaan Bumi dan seluruh isi alam semesta menjadi tentram damai dan sejahtera. (Sdn.Humbud.Dps.).