Denpasar, Lelakut, pindekan dan sunari oleh masyarakat petani di Bali khususnya Denpasar tentu keberadaannya sudah tidak asing lagi. Disamping bentuknya sebagai sebuah kreatiftas, lelakut, pindekan dan sunari oleh petani umumnya juga dipakai sebagai sarana untuk mengusir burung. Selain suaranya yang khas, lelakut, pindekan dan sunari juga mampu menciptakan dan menambah indahnya suasana sawah. Untuk melestarikan kearifan lokal yang adiluhung ini, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan bertepatan di HUTnya yang ke 227 kembali menggelar Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari. Melibatkan anggota subak seluruh Kecamatan yang ada di Kota Denpasar. Lomba dibuka langsung Sekda Kota Denpasar Rai Iswara ditandai dengan membunyikan kepuakan. Turut hadir SKPD terkait, DPRD, Camat, Kades/Lurah dan undangan penting lainnya, Sabtu(21/2) di Subak Kerdung Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan.
Ketua Panitia yang juga ketua forum pekaseh “Semaya Matika” I Wayan Jelantikdalam laporannya mengatakan, lomba yang diikuti seluruh Subak di Kota Denpasar serta para generasi muda khususnya siswa/siswi dilingkungan Kelurahan Pedungan. Didasari atas keinginan Walikota Denpasar IB Rai D. Mantra untuk mendorong kreatifitas para petani dan para generasi muda. Agar mengenal dan terus berupaya melestarikan warisan budaya nenek moyang. Dilibatkannya para generasi muda dalam ajang ini, mengingat generasi muda merupakan tulang punggung masa depan pembangunan. Sekaligusmengingatkan para generasi muda tentang makna sesungguhnya dari lelakut, pindekan dan sunari. Sehingga kearifan budaya lokal yang kita miliki nantinya tidak hilang termakan jaman, bahkan sebaliknya tetap eksis ditengah gempuran peradaban modern. Dijelaskan pula, untuk memudahkan penilaian masing-masing peserta oleh Tim telah dikelompokkan kedalam wilayah kecamatan masing-masing. Dengan ketentuan masing-masing peserta diwajibkan membuat sepasang Lelakut, pindekan dan sunari (lanang-wadon) dengan bahan yang telah ditentukan seperti; jerami, bambu dan lain-lain yang ramah lingkungan lengkap dengan aci-aciannya. Hal yang dinilai, mulai dari proses pembuatan, bentuk/rancang bangun, kreatifitas, keserasian, cara memasang serta jenis upacaranya. Bagi pemenang,panitia menyediakan hadiah berupa uang, piala dan piagam untuk juara I, II, III dan IV. Sebelum dinilai, peserta melalui ketuanya masing-masing juga diberi kesempatan untuk memaparkan hasil garapannya termasuk filosopi dan esensi upacaranya.
Usai membuka resmi Sekda Kota Denpasar Rai Iswara didampingi Kadis Kebudayaan Made Mudra, Kadis Pariwisata Wayan Gunawan, Kadis Pertanian Ambara serta undangan lainnya berkesempatan meninjau lokasi tempat digelarnya lomba. Sembari mengamati dengan seksama bentuk lelakut yang dipajang sambil sesekali memanfaatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan para petani. Dari kegiatan ini, Rai Iswaraberharap agar budaya yang mengandung kearifan lokal mampu dipertahankan dan dikembangkan. “Mengingat lelakut, pindekan dan sunari merupakan identitas dari sebuah kegiatan keseharian para petani yang diwariskan nenek moyang terdahulu yang patut dijaga, digali, dikembangkan dan dipahami makna dan filosopinya. Dan selanjutnya dapat diwariskan pada para generasi muda khususnya anak cucu kita nanti”, ucapnya. (Sdn.Humbud.Dps).
13 Januari 2026
26 Januari 2026
29 Oktober 2025