Menu

Lestarikan Budaya Leluhur, Pemkot Denpasar Gelar Lomba Ngelawar Libatkan Sekaa Teruna

  • Minggu, 15 Februari 2015
  • 1516x Dilihat

Lawar merupakan warisan leluhur yang patut dilestarikan. Pelestarian tersebut harus melibatkan semua pihak termasuk sekaa teruna. Untuk itu Pemerintah Kota Denpasar menggelar berbagai lomba untuk kelengkapanupacara seperti lomba ngelawar, membuat sate  renteng dan lomba membuat prani. Selain untuk ajang pelestarian warisan leluhur untuk, lomba yang dilaksanakan Minggu (15/2) juga untuk memeriahkan HUT Ke-227 Kota Denpasar.

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang langsung menyaksikan lomba membuat lawar mengatakan lomba ini dilaksanakan tiap tahun untuk merevitalisasi serta membangkitkan dan mengembangkan juga untuk menguatkan budaya yang telah ada. Tentunya melalui lomba ngelawar ini dapat memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengembangkan dan menguatkan budaya tersebut. Untuk berkelanjutannya maka perlu melibatkan anak-anak muda mengingat mereka akan mengambil estafet pelestarian kebudayaan ini sehingga kedepannya tidak ada kesulitan. Lebih lanjut Rai Mantra menambahkan lomba-lomba yang diselenggarakan  harus terus mengalami peningkatan baik dari peserta maupun kualitas lomba. Kedepannya diharapkan bobot lomba lebih di tingkatkan. Sehingga apa yang menjadi persyaratan dalam upacara mereka sudah diketahui. Masalah kebudayaan bukan hanya masalah seni, kalau masalah seni di Denpasar sudah tidak perlu diragukan lagi. Sekarang mengarah pada penguatan upakara upacara agama. Ini semua perlu didukung oleh semua komponen masyarakat sehingga pelestarian budaya bisa terwujud. Contohnya pembuatan sate renteng sudah melibatkan anak-anak ini tentu ini sangat tepat sehinga ada regenerasi.

Kepala Dinas Kebudayaan Made Mudra menambahkan lomba ngelawar ini salah satu pelestarian budaya. Karena makanan tradisional tersebut tidak hanya untuk pesta saja. Karena makanan lawar tersebut merupakan simbul untuk penyelenggaraan upacara. Mengingat lawar terdapat berbagai warna sebagai simbul-simbul upacara seperti lawar merah dan lawar putih.  Kegiatan ngelawar tersebut harus dilestarikan dalam pelaksanaannya. Untuk itu dalam lomba ngelawar ini melibatkan anak-anak muda, karena mereka merupakan generasi penerus untuk pelestarian tersebut. "Jangan kira ngelawar di kira untuk pesta sehingga beranggapan kalau perlu lawar beli saja. Tidak demikian ngelawar tersebut merupakan proses pembuatan upakara yang dilaksanakan secara tulus iklas melalui ngayah atau goto royong," ujar Mudra. Demikian juga untuk pembuatan sate renteng selama ini hanya dibuat di griya. Sekarang sudah ada generasi muda mulai belajar membuat sate renteng. Bila ada upacara bisa langsung membuat sate renteng tentunya didampingi para pengelingsir.

Salah seorang tim penilai lomba ngelawar Gede Anom Ranuara mengatakan lomba ngelawar dan lomba sate renteng serta meprani dari tahun-ketahun telah mengalami peningkata. Baik dari seri peserta maupun dari segi pakem-pakem pembuatan sarana upacara agama tersebut. Karena dilihat dari proses pembuatan sampai jadi semua peserta sudah sesuai dengan sastra agama. Gede Anom Ranuara mengharapkan kegiatan ini terus ditingkatkan dengan menyasar generasi muda. Tentunya ini akan membawa dampak yang sangat bagus kedepannya karena budaya leluhur terus dapat dilestarikan. Terlebih lagi Pemerintah Kota Denpasar memberikan ruang yang luas pada masyarakat termasuk generasi muda dalam pelestarian budaya leluhur salah satu melalui lomba ini. Dalam kesempatan tersebut Anom Ranuara mengharapkan para peserta jangan hanya mengejar juara, yang terpenting bagaimanabisa melestariwan warisan leluhur ini.(Gst)