Denpasar, Agama Hindu tidak dapat dipisahkan dari seni budaya, dan salah satu sumber seni budaya Bali yang adi luhung adalah tari “Legong”. Untuk mengupas lebih jauh tentang sejarah perkembangan serta keberadaannya termasuk pakem dan masa depannya. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar bekerjasama dengan Yayasan Bali Kuno dan pakar seni dan budaya, menggelar kegiatan sosialisasi buku “Tari Legong”. Melibatkan sanggar-sanggar tari dan tokoh-tokoh seni serta para budayawan dan siswa-siswi SMA/SMK Se-Kota Denpasar. Sosialisasi ditandai dengan penyerahan buku “Tari Legong” kepada peserta oleh Kadis Kebudayaan Drs. Md. Mudra,M.Si serta didampingi Kabid Dokumen IGN Alit Sudibya, Kamis (30/7) di Aula Sabho Lango Santi Kantor Disbud Denpasar
Dalam sambutannya Mudra mengatakan, menyambut baik diadakannya sosialisasi buku “Tari Legong”. Disamping untuk mengetahui sejarah dan khasanah perkembangan tari “Legong”. Sosialisasi ini juga bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait dengan gerak tari dasar dan pekem “Legong” itu sendiri serta tabuh iringannya. Mudra juga tak lupa mengucapkan terimakasih kepada para penulis dan para pihak yang ikut membantu terselenggaranya penyusunan Buku “Tari Legong” ini hingga selesai tepat pada waktunya. Semoga buku ini bermanfaat bagi masyarakat Kota Denpasar khususnya para pencinta seni “Legong”.
Sementara Ayu Bulantari Djelantik selaku editor buku “Legong” mengatakan, buku yang disusun dari 14 penulis terkenal, dimaksudkan untuk memberikan refrensi dan pengetahuan kepada masyarakat khususnya pencinta seni dan para pembaca tentang sejarah Tari Legong berdasarkan kajian lontar atau studi pernaskahan. Disamping untuk menguak sejarah perkembangannya mulai dari awal penciptaan hingga berkembang seperi sekarang ini. Seperti asal-usul, sruktur dan estetika tari, taksu, gamelan, gerak dasar, kostum pola pementasan termasuk strategi pelestariannya. Seperti yang ditulis dalam buku, bahwa tari legong yang kini menjadi ikon tari Bali, pernah mengalami pasang surut. Dimana pada tahun 70An pernah terjadi boming munculnya jenis-jenis tari baru sehingga akibat kejadian tersebut tari Legong sempat ditinggal penggemarnya. Baru kemudian pada tahun 1979 setelah adanya Pesta Kesenian Bali yang digagas almarhum Gubernur Bali Prof. DR. IB Mantra tari ini kembali menggeliat. Dan seiring dengan perkembangannya kini tari “Legong” sudah menjadi ikon diantara tari-tari Bali yang ada. Dalam sosialisasi kali ini, salah seorang penulis yakni Prof. Dibia juga sempat menjelaskan bahwa tari ini memiliki 5 dasar gerak yang tidak boleh hilang. Diantaranya tari ini memiliki ciri dasar, bergerak dengan penjiwaan, terdapat bagian pengawit (awal), memiliki gelungan atau mahkota khas, penari lebih banyak berada di panggung dan tari ini diiringi gamelan palegongan, terangnya. Sekarang dengan kreatifitas yang dimiliki seniman, tari jenis ini sudah mulai berkembang menjadi beberapa jenis seperti tari Legong Lasem, Legong Kuntul, Smaradhana dan lain-lain. (Sdn.Humbud.Dps.).
29 Oktober 2025