Keberadaan lautan (pasir) dan gunung (ukir) memiliki arti yang sangat penting bagi manusia, karena keduanya merupakan sumber kehidupan. Bagi umat Hindu, khususnya di Bali, kedua tempat tersebut merupakan kawasan suci yang patut dijaga dengan baik demi kelangsungan hidup manusia yang harmoni sesuai denga konsepsi tri hita karana. Kini kedua kawasan tersebut sudah banyak mengalami kerusakan dan pencemaran, sehingga mengganggu kelestarian dan keseimbangan semesta alam. Oleh sebab itu perlu diambil langkah-langkah dan pemikiraan agar masyarakat Bali pada khususnya lebih menumbuhkan kesadarannya akan pentingnya menjaga kelestarian alam khususnya kelestarian lautan dan pegunungan. Baik lautan maupun pegunungan merupakan kawasan sumber air yang sangat penting, yang sangat berguna bagi kelangsungan kehidupan manusia.
Berkenaan dengan hal tersebut sejumlah sastrawan dan budayawaan kota Denpasar akan menggelar kemah sastra bertema “Konsep Pasir-Ukir dalam Kesusastraan Bali” pada hari Minggu, 7 Desember 2014 bertempat di Pura Dalem Sakenan, Serangan, Denpasar. Ada empat narasumber yang akan berbicara nanti, yaitu IBG Agastia dengan topik “Pasir-Ukir dalam Kesusastran Bali”, Dr. IB Suamba dengan topik “Air (Apah) dalam Susastra Weda”, IDG Windhu Sancaya dengan topik “Kisah Samudra Manthana dalam Adiparwa”, dan Putu Gde Suata, M.Ag., dengan topik “Bhasa Sangu Tangis: Perjalanan Menyusuri Pantai”.
Kemah sastra ini dilaksanakan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dengan Jurusan Sastra Bali Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana. Ketua Panitia Kemah Sastra, Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., mengatakan bahwa karya sastra Bali sangat kaya dengan konsepsi luhur tentang kelestarian alam, serta berbagai nilai kearifan lokal yang sangat berguna dalam menghadapi arus perubahan yang begitu cepat saat ini. Melalui kemah sastra ini ia mengharapkan agar masyarakat semakin menyadari akan pentingnya kelestarian lautan dan gunung bagi kehidupan kita saat ini maupun anak cucu di masa depan. Acara kemah sastra ini dilakukan sekaligus untuk menyambut datangnya hari Raya Galungan dan Kuningan, serta sebagai refleksi untuk menyongsong pergantian tahun baru. Kemah sastra ini akan diikuti oleh 75 orang dari kalangan sastrawan, budayawan, seniman, guru agama Hindu, mahasiswa dan dosen. (***)
26 Januari 2026
13 Januari 2026
29 Oktober 2025