Menu

I MADE TARO, Pemkot Denpasar Paling Getol Lakukan Pelestarian

  • Minggu, 01 November 2015
  • 1498x Dilihat

Denpasar, Pemkot Denpasar paling getol lakukan upaya pelestarian terhadap jenis permainan rakyat atau permainan tradisional khas Bali. Demikian diungkapkan pakar dan praktisi permainan tradisi Bali I Made Taro saat digelarnya workshop tentang “Permainan Tradisional Bali”, Minggu (1/11) di Ruang Sabha Lango Santi Dinas Kebudayaan Denpasar.

Tingginya kandungan nilai edukasi pada jenis “Permaianan Tradisional Bali”, membuat Pemkot melalui Dinas Kebudayaan terus mengambil langkah pelestarian. Melalui berbagai kegiatan salah satunya adalah workshop “Permaianan Tradisional Bali”. Melibatkan siswa/siswi Se-Kota Denpasar mulai tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Termasuk ikut didalamnya para Kader Pelestari Budaya (KPB) Kota Denpasar dan Pasraman Yasa Pakerti. Menghadirkan pakar sekaligus praktisi permainan tradisional Bali I Made Taro. Kegiatan ini diharapkan mampu menarik perhatian para generasi muda untuk ikut melestarikan berbagai jenis permainan rakyat tradisional Bali yang sarat dengan nilai edukasi. Menurut  Made Taro, permainan tradisional adalah aktifitas budaya yang rekreatif penuh canda. Pada dasarnya semua permainan baik tradisional maupun modern sangat bermanfaat sebagai media belajar. Melalui kegiatan belajar yang rekreatif itu, anak-anak dapat mengembangkan daya kreasi dan imajinasi serta mengaktifkan semua ranah yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Dari sisi  pendidikan budaya terutama pendidikan karakter, permaianan tradisional akan lebih banyak bicara. Hal itu tidak terlepas dari sifat atau ciri permainan tradisional itu sendiri yakni sederhana, kolektif, kreatif, luwes dan berproses. Menurutnya pula, masyarakat Kota Denpasar tak perlu berpangku tangan membiarkan kreasi dan kegiatan budayanya tegerus oleh pengaruh globalisasi. Melalui visi yang dimiliki yakni “Denpasar Sebagai Kota Budaya” kegiatan mepelalianan (permaianan tradisional anak-anak), sangat dimungkinkan untuk dihidupkan kembali seperti yang pernah ada beberapa tahun silam. Tentu dengan melakukan usaha aktualisasi, refitalisasi dan sosialisasi serta memfasilitasi kegiatan bermain anak-anak dengan memanfaatkan ruang-ruang terbuka Kota. Seperti; balai banjar, wantilan, lapangan, balai masyarakat, sekolah atau ruang terbuka lainnya yang bisa dimanfaatkan. Dan dirinya bersyukur ini sudah dilakukan Pemkot Denpasar dan perlu ditingkatkan terus eksistensinya, harapnya.

Sementara Ketua Penyelenggara Md. Sudiana mengatakan, kegiatan ini rutin digelar setiap tahun. Dan untuk tahun ini pihaknya menggabungkan tiga materi atau tiga aspek permainan tradisional kedalam kegiatan workshop. Diantaranya pengetahuan tentang sejarah permainan tradisional Bali, cara pembuatannya serta cara memainkannya. Sehingga dengan ketiga materi ini, peserta akan mendapatkan pengetahuan secara lengkap, terangnya. (Sdn.Humbud.Dps.).