Denpasar, Memasuki hari terakhir penilaian ogoh-ogoh STT Se-Kota Denpasar setelah empat hari berkeliling. Tim penilai mendapatkan fakta bahwa antusias sekeha Teruna (STT) dalam mengikuti seleksi tahun ini semakin tinggi. Terbukti jumlah peserta tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yakni dari sekitar 94 ogoh-ogoh meningkat menjadi129 ogoh-ogoh. Bahkan sebagian besar diantaranya sudah menggunakan bahan ulat-ulatan bambu yang ramah lingkungan. Demikian dikatakan Koordinator Tim Seleksi Ogoh-Ogoh Kota Denpasar I Komang Astita dan Butu Antara usai melakukan penilaian, Jumat (13/3).
Lebih jauh Astita mengatakan, terkait dengan adanya perubahan bahan yang digunakan dari Styrofoam kebahan ulat-ulatan yang ramah lingkungan. Ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap antusias STT dalam mengerjakan ogoh-ogohnya. Terbukti bentuk maupun estetikanya tidak jauh beda dengan ogoh-ogoh bahan Styrofoam. Ini menunjukkan bahwa ketrampilan dan kreatifitas para pemuda dalam merancang ogoh-ogoh tidak diragukan lagi. Bahkan banyak diantaranya mengatakan, dengan menggunakan bahan bambu, jumlah STT yang terlibat dalam pengerjaan semakin banyak. Seperti diungkapkan Gd. Ananda salah seorang perancang ogoh-ogoh dari Br. Kertabumi Dentim. Dulu ketika menggunakan bahan Styrofoam yang terlibat paling satu dua orang selebihnya jadi penonton. “Kini dengan bahan bambu STT yang terlibat jadi semakin banyak, ini membuat hati saya senang”, ujarnya. Suasana hangat yang dulu hilang kini kami dapatkan kembali, bercengkrama dan saling mengenal satu sama lain. “Siapa tahu disini saya bisa mendapatkan jodoh”, candanya. Yang jelas perubahan ini mampu membawa angin segar bagi kebersamaan dan kerukunan STT di Kota Denpasar serta menghindarkan udara dan lingkungan perkotaan dari pencemaran zat kimia,”, tegasnya. Walaupun satu dua masih ada mengatakan perubahan kebahan ulat-ulatan membunuh kreatifitas dengan spanduk yang besar-besar, menurut Ananda itu sangat tidak benar.
Hal ini dibenarkan pula oleh Pt. Marmar salah seorang praktisi dan juga perancang ogoh-ogoh. “Mengadopsi sesuatu yang berbau modern itu boleh-boleh saja”, ucapnya. “Namun perlu diingat modern itu belum tentu semua cocok dengan budaya kita, harus ada kemampuan untuk memfiltrasi, jelasnya. Dan yang lebih penting lagi adalah upaya memperkuat jati diri sebagai manusia yang berbudaya jauh lebih penting ketimbang sebutan-sebutan modern yang bersifat komersial. Memang, melakukan langkah perubahan tidak seperti membalikkan telapak tangan perlu waktu dan tenaga serta kesadaran dari semua pihak. Yang menarik dari penilaian kemarin hadirnya ogoh-ogoh celuluk berukuran super jumbo dari STT Br. Bengkel Sumerta. (Sdn.Humbud.Dps.).
26 Januari 2026
13 Januari 2026
29 Oktober 2025