PROFIL
PROFIL
PPID
PPID
INFORMASI PUBLIK
INFORMASI PUBLIK
TRANSPARANSI KEUANGAN
TRANSPARANSI KEUANGAN
SATU DATA
SATU DATA
LAIN-LAIN
LAIN-LAIN

Ni Pollok - Satyaning Kahuripan

NASKAH FILM DOKUMENTER “NI POLOK”

Penulis : Nyoman Payuyasa, Ni Nyoman Ayu Suciartini Ni Pollok.

Nama yang sederhana tetapi kiprahnya tak bisa dipandang sebelah mata. Pollok adalah Bali dalam tubuh perempuannya. Ia adalah intisari dari bakat, taksu, dan keagungan yang menyatu padu. Pollok menari dari usia belia hingga sampai akhir hayatnya, Kini, mungkin ia tengah menari di tengah-tengah dewata. Tarian sesungguhnya tercipta atas resah, gelisah, riang, dan perasaan-perasaan manusia lainya yang kadang tak bisa diungkapkan. Itulah yang dirasakan Pollok. Ia menumpahkan segala rupa emosi jiwanya dalam gerak kaki, tangan, jemari, hingga sudut mata. Pollok dan Legong adalah catatan sejarah. Berbincang tentang Legong, nama Ni Pollok sungguh tak dapat ditepis keberadaannya. Pollok adalah penari Legong yang lahir dan bertumbuh di Desa Kelandis, Denpasar. Seorang gadis yang mulai mengenalkan jiwa dan raganya dengan tarian sejak usia enam tahun. Ia begitu menyukai tarian. Seolah tubuhnya tergerak dinamis setiap suara gamelan bertandang. Polok identik sebagai penari legong yang telah mengisi banyak panggung di wilayah Denpasar. Di kota ini, aktivitas berkesenian berlangsung sejak lama. Denpasar berkembang seiring seirama dengan hingar bingar ruang berkesenian. Denpasar memiliki begitu banyak maestro besar dan ternama. Darah seniman menganak sungai mengaliri kedahagaan para penikmat seni. Alur hidup pollok sebagai penari Legong dibentuk oleh Nyoman Kaler. Seorang maestro tari dari Kota Denpasar. Pollok menempa seluruh tubuhnya dengan berbagai gerak, laku, dan nilai. “Izinkan aku mengenal berbagai gerak tari, akan kuabdikan seluruh jiwa dan raga untuknya” “Tubuh harusnya bisa bicara sama baiknya seperti lidah saat berkata” “Aku menari untuk menyampaikan perasaan yang tak bisa kulisankan lewat kata” “Tangan dan kaki yang digerakan oleh jiwa, akan menggetarkan dunia” Polok memikat hati seluruh manusia di dunia ini, termasuk seorang pelukis asal Belgia bernama Le Mayure. Terpikat oleh tarian Ni Pollok pada satu pentas, membuat pelukis ini ingin memiliki Ni Pollok secara utuh. Le Mayure lantas menggiring Ni Pollok dari penari panggung menjadi penari di atas kanvas. Polok menari dalam setiap goresan warna yang tercurahkan sang pelukis. Pollok telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk seni. Ia mewariskan kisah haru yang membuat namanya patut untuk dikenang kekal. Saat hidup bersanding bersama Le Mayure, Pollok merelakan takdirnya untuk tidak memiliki keturunan demi menjaga kesempurnaan tubuhnya sebagai seorang penari sekaligus model lukisan Le Mayure. Le Mayure tak menginzinkan Ni Pollok untuk hamil agar bentuk tubuhnya tak menjadi rusak kemudian. Sebuah keikhlasan, pengorbanan dan pengabdian yang tak terhitung nilainya. Pada tanggal 21 Juli 1985, Polok berpulang. Meski raganya tak lagi terlihat kasat mata, nama, kisah, dan kiprahnya mengalir kekal hingga kini. Cerita Pollok adalah tuturan bagi generasi muda di Bali untuk mencintai seni, kesenian, dan tradisi dengan tanpa henti apalagi sangsi. Ni Pollok adalah gairah Legong yang lahir dari bumi pertiwi untuk memikat dan meneduhkan dunia. Pollok adalah legong dan legong adalah Pollok.

Share